Minggu, 13 Maret 2016

Teori Kepribadian sehat pendapat Rogers

A.     Perkembangan Kepribadian “Self”

Menurut Rogers orang yang memiliki kepribadian sehat adalah orang yang dapat mengaktualisasikan diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak-kanak seperti yang di ajukan oleh aliran freudian, misalnya toilet training, penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya. Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya.
 Aktualisasi dapat memudahkan dan meningkatkan pematangan dan pertumbuhan. Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat serta potensi psikologisnya yang unik. Roger percaya bahwa manusia memiliki dorongan yang dibawanya sejak lahir untuk menciptakan dan hasil ciptaan yang paling penting adalah diri orang sendiri, suatu tujuan yang dicapai jauh lebih sering oleh orang-orang yang sehat daripada orang-orang yang sakit secara psikologisnya. 
Menurut roger manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh masa kanak-kanak, tetapi menurutnya masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat jauh lebih penting daripada maa lampau. Tetapi beliau mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi kita memandang masa sekarang yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis.
Menurut Rogers orang yang memiliki kepribadian sehat adalah orang yang dapat mengaktualisasikan diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak-kanak seperti yang di ajukan oleh aliran freudian, misalnya toilet training, penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya. Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya.Sebagai makhluk hidup manusia merupakan organisme, yaitu makhluk fisik (physical creature) dengan semua fungsi-fungsinya, baik secara fisik maupun psikis. Organisme ini juga merupakan locus (tempat) semua pengalaman, dan pengalaman ini merupakan persepsi seorang tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam diri sendiri dan juga di dunia luar.

B.     Peranan Positive Regard

Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain (warmth, liking, respect, sympathy & acceptance, love & affection). Kebutuhan ini disebut need for positive regardPositive regard terbagi menjadi 2 yaitu:
·         Conditional positive regard (bersyarat) 
Conditional positive regard atau penghargaan positif bersyarat misalnya kebanyakan orang tua memuji, menghormati, dan mencintai anak dengan bersyarat,yaitu sejauh anak itu berpikir dan bertingkah laku seperti dikehendaki orangtua.
·         Unconditional positive regard (tak bersyarat).
Unconditional positive regard disini anak tanpa syarat apapun dihargai dan diterima sepenuhnya.]

C.     Ciri-ciri orang yang berfungsi sepenuhnya :

1. Keterbukaan pada pengalaman
            Merupakan lawan dari sikap defensif. Setiap pendirian dan perasaan yang berasal dari dlam dan dari luar disampingkan ke sistem syaraf organisme tanpa disorsi atau rintangan. Orang yang demikian mengetahui segala sesuatu tentang kodratnya; tidak ada segi kepribadian tertutup. Itu berarti bahwa kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru.
2. Kehidupan Eksistensial
            Rogers percaya bahwa kualitas dari kehidupan eksistensial ini merupakan segi yang sangat esensial dari keopribadian yang sehat. Kepribadian terbuka kepada segala sesuatu yang terjadi pada momen itu dan dia menemukan dalam setiap pengalaman suatu struktur yang dapat berubah dengan mudah sebagai respons atas pengalaman momen yang berikutnya.
3. Kepercayaan Terhadap Organisme Orang Sendiri
           Dimana orang dapat bertindak menurut implus-implus yang timbul seketika dan intuitif. Dalam tingkah laku yang demikian itu terdapat banyak spontanitas dan kebebasan, tetapi tidak sama dengan bertindak terburu-buru atau sama sekali tidak memperhatikan konsekuensi-konsekuensinya.
4. Perasaan bebas
            Rogers percaya bahwa semakin seseorang sehat seseorang sehat secara psikologis, semakin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak.orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Dan orang yang berfungsi sepenuhnya memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa mas adepan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan, atau peristiwa-peristiwa masa lampau.
5. Kreativitas
            Rogers  mengungkapkan bahwa diri setiap orang memiliki produk-produk yang kreatif dan kehidupan yang kreatif dalam semua bidang kehidupan. Orang-orang yang kreatif dan spontan tidak terkenal karena konformitas atau penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan-tekanan sosial dan kultural. Dan Roger percaya bahwa orang-orang yang berfungsi sepenuhnya  lebih mampu menyesuaikan diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastis dalam kondisi-kondisi lingkungan. Mereka memiliki kereativitas dan spontanitas untuk menanggulangi atau becana-bencana alamiah.

Refrensi :
Schultz,Duane.(1991). Psikologi Pertumbuhan.Yogyakarta:Penerbit Kanisius.
Samsyu Yusuf dan Juantika Nurihsan. (2007). Teori Kepribadian. Bandung: Rosda
Jess, J. And Gregory,J.F.teori kepribadian. Jakarta: salemba humanika, 2009
http://tumpakronald.blogspot.co.id/2015/03/teori-kepribadian-sehat-menurut.html

Teori kepribadian sehat aliran humanistik dan pendapat Allport

Ø  Kepribadian Sehat Menurut Humanistik

A.   Kepribadian Sehat Humanistik

Humanistik mulai muncul sebagai sebuah gerakan  besar psikologi dalam tahun 1950-an. Aliran Humanistik merupakan konstribusi dari psikolog-psikolog terkenal seperti Gordon Allport, Abraham Maslow dan Carl Rogers.Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.
Ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Bagi ahli-ahli psikologi humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara potensial menghambat. Gambaran ahli psikologi humanistik tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh harapan. Mereka percaya terhadap kapasitas manusia untuk memperluas, memperkaya, mengembangkan, dan memenuhi dirinya, untuk menjadi semuanya menurut kemampuan yang ada. Aliran Humanistik juga memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih potensi maksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.

B.   Perbedaan kepribadian sehat menurut aliran Psikoanalisa, Behaviorisme dan Humanistik

1. PSIKOANALISA

Aliran psikoanalisa melihat manusia dari sisi negatif, alam bawah sadar (id, ego, super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini juga mengabaikan potensi yang dimiliki oleh manusia, selain itu juga berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang berkeinginan (homo volens).Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya. Terdapat peristiwa mental yang kita sadari dan tidak kita sadari. Pandangan kaum psikoanalisa, hanya memberi kepada kita sisi yang sakit dari kodrat manusia, karana hanya berpusat pada tingkah laku yang neuritis dan psikotis. Aliran ini mempelajari kepribadian yang terganggu secara emosional, bukan kepribadian yang sehat; atau kebribadian yang paling buruk dari kodrat manusia, bukan yang paling baik. Jadi, aliran ini memberi gambaran pesimis tentang kodrat manusia, dan manusia dianggap sebagai korban dari tekanan-tekanan  biologis dan konflik masa kanak-kanak.
Aliran ini menyatakan bahwa struktur dasar kepribadian manusia sudah terbentuk pada usia lima tahun. Freud membagi struktur kepribadian dalam tiga komponen, yaitu id, ego, dan superego. Perilaku seseorang merupakan hasil interaksi antara ketiga komponen tersebut. Id merupakan sumber dari insting kehidupan (makan, minum, tidur) dan insting agresif yang menggerakkan tingkah laku. Id berorientasi pada prinsip kesenangan. Ego sebagai sistem kepribadian yang terorganisasi, rasional, dan berorientasi pada prinsip realitas. Superego merupakan komponen moral kepribadian yang terkait dengan norma di masyarakat mengenai baik-buruk atau benar-salah. Superego berfungsi untuk merintangi dorongan id, terutama dorongan seksual dan sifat agresif, juga mendorong ego untuk menggantikan tujuan realistik dengan tujuan moralistik, serta mengejar kesempurnaan. Secara umum perilaku manusia bertujuan dan mengarah pada tujuan untuk meredakan ketegangan, menolak kesakitan dan mencari kenikmatan. Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan seksual mengarah pada perilaku neurosis. Latihan pengalaman dimasa kanak-kanak berpengaruh penting pada perilaku masa dewasa dan diulangi pada transferensi selama proses perilaku.

2. BEHAVIORISME

Aliran behaviorisme memperlakukan manusia sebagai mesin, yaitu di dalam suatu sistem kompleks yang bertingkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum. Dalam pandangan kaum behavioris, individu digambarkan sebagai suatu organisme yang bersifat baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup, berkreativitas, seperti alat pengatur panas. Jadi, manusia dilihat oleh para behavioris sebagai orang-orang yang memberikan respons secara pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar dan manusia di anggap tidak memiliki diri sendiri. Behaviorisme menekankan perspektif psikologi pada tingkah laku manusia, yakni bagaimana individu dapat memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil, dan menjadi lebih mengetahui. Behaviorisme memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan, pengalaman, dan pemeliharaan atas bentuk perilakunya. Tujuan aliran psikologi Behaviorisme adalah mencoba memprediksi dan mengontrol perilaku manusia sebagai introspeksi dan evaluasi terhadap tingkah laku yang dapat diamati, bukan pada ranah kesadaran.
Hakikat aliran Behaviorisme adalah teori belajar, bagaimana individu memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil, menjadi lebih tahu. Kepribadian dapat dipahami dengan mempertimbangkan perkembangan tingkah laku dalam hubungannya yang terus menerus dengan lingkungannya. Menurut B.F. Skinner, cara efektif untuk mengubah dan mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan penguatan (reinforcement) dan pemberian hukuman (punishment). Jadi, yang menjadi prinsip umum dalam aliran Behaviorisme adalam tingkah laku sebagai objek, refleks atas semua bentuk tingkah laku, dan pembentukan kebiasaan dalam individu.

3. HUMANISTIK

Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.
Ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Bagi ahli-ahli psikologi humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara potensial menghambat.
Gambaran ahli psikologi humanistik tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh harapan. Mereka percaya terhadap kapasitas manusia untuk memperluas, memperkaya, mengembangkan, dan memenuhi dirinya, untuk menjadi semuanya menurut kemampuan yang ada. Aliran Humanistik juga memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih potensi maksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.

Ø  KEPRIBADIAN SEHAT MENURUT ALLPORT

   Teori allport tentang dorongan dari kepribadian yang sehat memasukan juga “ prinsip penguasaan dan kemampuan” (principle of mastery and competence) yang berpendapat bahwa orang-orang yang matang dan sehat tidak cukup puas dengan melaksanakan atau mencapai tingkatan-tingkatan yang sedang atau yang hanya memadai. Mereka didorong untuk melakukan sedapat mungkin, untuk mencapai tingkat penguasaan dan kemampuan yang tinggi dalam usaha memuaskan motif-motif mereka.
  Proprium didefinisikan dalam memikirkan bentuk sifat “propriate” seperti dalam kata “appropriate”. Proprium menunjukan kepada sesuatu yang dimiliki sesorang atau unik bagi seseorang. Itu berarti bahwa proprium (atau self) terdiri drai hal-hal atau proses-proses yang penting dan bersifat pribadi bagi seseorang individu, segi-segi yang menentukan seseorang sebagai yang unik.

Ø  PERKEMBANGAN PROPRIUM 
Proprium itu berkembang dari masa bayi sampai masa adolesensi melalui tujuh tingkat “diri”  yang terdiri dari :
a.  “Diri” jasmaniah, yaitu dimana kita tidak dilahirkan dengan suatu perasaan tentang diri; perasaan tentang diri bukan merupakan bagaian dari warisan keturunan kita. Bayi tidak dapat membedakan antara diri (“saya”) dan dunia disekitarnya. Ketika bayi menyentuh, melihat, mendengar dirinya, orang-orang lain, dan benda-benda, perbedaan itu menjadi lebih jelas. Kira-kira pada usia 15 bulan inilah munculnya perkembangan proprium diri jasmaniah.
b.     Identitas-diri, yaitu dimana anak mulai sadar akan identitasnya yang berlangsung terus sebagai seseorang yang terpisah. Anak mempelajari namanya, menyadari bahwa bayangan dalam cermin hari ini adalah bayangan dari orang yang sama seperti yang dilihatnya kemarin, dan percaya bahwa perasaan tentang “saya” atau “diri”. Allport berpendapat bahwa segi yang sangat penting dalam identitas-diri adalah nama orang. Nama itu menjadi loambang dari kehidupan seseorang yang mengenal dirinya dan membedakannya dari semua diri yang lain di dunia.
c.    Harga-diri, yaitu menyangkut perasaan bangga dari anak sebagai suatu hasil dari belajar mengerjakan benda-benda atas usahanya sendiri. Anak yang berusia 2 tahun memiliki sifat ingin tahu dan agresif dapat menjadi sangat destruktif karena dorongan untuk memanupulasi dan menyelidiki ini berkuasa. Allport percaya bahwa hal ini merupakan suatu tingkat perkembangan yang menentukan;apabila orang tua menghalangi kebutuhan anaka untuk menyelidiki maka perasaan harga-diri nyang timbul dapat dirusakkan. Akibatnya dapat timbul perasaan dihina dan marah.
d.    Perluasaan diri (self extension) ini terjadi sekitar usia 4 tahun. Dimana anak sudah mulai menyadarai orang-orang lain dan benda-benda dalam lingkungannya dan fakta bahwa beberapa diantaranya adalah milik anak tersebut. Anak berbicara tentang “rumahku” atau “sekolahku”. Anak mempelajari arti dan nilai dari milik seperrti terungkap dalam kata yang bagus sekali “kepunyaanku”
e.  Gambaran diri yaitu, dimana anak melihat dirinya dan pendapatnya tentang dirinya. Gambaran ini berkembang dari interaksi-interaksi antara orang tua dan anak. Lewat pujian dan hukuman, anak belajar bahwa orang tuanya mengharapkannya supaya menampilkan tingakah laku-tingkah laku tertentu dan menjauhi tingkah laku-tingkah laku lainnya.
f.   Diri sebagai pelaku Rasional, ini timbul setelah anak mulai sekolah dimana aturan-aturan dan harapan-harapan baru dipelajari dari guru-guru dan teman-teman sekolah serta hal yang lebih penting ialah diberikannya aktivitas-aktivitas dan tantangan-tantangan intelektual. Dan anak akan belajar bahwa dia dapat memecahkan maslaah-masalah dengan menggunakan proses-proses yang logis dan rasional.
g.     Perjuangan Proprium (propriate striving) terjadi dalam masa adolesensi dimana ini adalah tingkat terakhir dalam perkembangan diri (selfhood). Allport percaya bahwa masa adolesensi merupakan suatu masa yang sangat menentukan. Dimana orang sibuk dalamn mencari identitas-diri yang baru, sangat berbeda dari identitas-diri pada usia 2 tahun.  

Ø  Ciri-Ciri Kepribadian yang Matang Menurut Allport
       Menurut Allport, faktor utama tingkah lalu orang dewasa yang matang adalah sifat-sifat yang terorganisir dan selaras yang mendorong dan membimbing tingkah laku menurut prinsip otonomi fungsional.Kualitas kepribadian yang matang menurut allport sebagai berikut:

1.      Ekstensi sense of self
Adalah kemampuan berpartisipasi dan menikmati kegiatan dalam jangkauan yang luas, kemampuan diri dan minat-minatnya dengan orang lain, kemampuan merencanakan masa depan dengan penuh harapan dan rencana, kemampuan mengerjakan sesuatu secara aktif. Semakin banyak seseorang terlibat dalam kegiatan maka semakin sehat secara psikologis juga dia

2.      Hubungan hangat/akrab dengan orang lain
Adalah kapasitas intimacy (hubungan kasih dengan keluarga dan teman) dan compassion (pengungkapan hubungan yang penuh hormat dan menghargai dengan setiap orang atau suatu pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa)
3.      Penerimaan diri/ Keamanan emosional
Adalah kemampuan untuk mengatasi reaksi berlebihan dalam hal-hal yang menyinggung dorongan khusus (misal : mengolah dorongan seks) dan menghadapi rasa frustasi, kontrol diri atau dapat mengontrol emosi mereka, perasaan proporsional.

4.      Pandangan-pandangan realistis, keahlian dan penugasan
Adalah kemampuan memandang orang lain, objek, dan situasi. Mereka memandang dunia mereka secara objektif  dan menerima realitas sebagaimana adanya.

5.      Keterampilan-keterampilan dan tugas-tugas
            Adalah kapasitas dan minat dalam penyelesaian masalah, memiliki keahlian serta tanggung jawab penuh dalam penyelesain tugas yang dipilih, mengatasi pelbagai persoalan tanpa panik, memiliki dedikasi dan komitmen yang kuat dalam penyelesaiaan tugas dan keterampilan tersebut.

6.      Objektifikasi diri: insight dan humor
Adalah kemampuan diri untuk objektif dan memahami tentang diri dan orang lain. Orang yang sehat adalah yang terbuka pada pendapat orang lain, memiliki pandangan yang positif dan memiliki wawasan diri yang tinggi terhadap dirinya dalam merumuskan suatu gambaran yang objektif. Selain itu adanya korelasi yang tinggi antara wawasan diri dengan humor, humor tidak sekedar menikmati dan tertawa tapi juga mampu menghubungkan secara positif pada saat yang sama pada keganjilan dan absurditas diri dan orang lain.

7.      Filsafat Hidup
Orang yang sehat melihat kedepan, didorong oleh tujuan-tujuan dan rencana jangka panjang maka daripada itu dibutuhkannya suatu nilai-nilai dan suara hati yang kuat untuk dapat mencapai semuanya itu.

Refrensi :
Baihaqi,MIF.(2008). Psikologi Pertumbuhan, Kepribadian Sehat Untuk Mengembangkan Optimisme. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Hlm. 4-6.
Lindsay,Gardner. Editor: Sugiyono. 1993. Psikologi Kepribadian 3 Teori-Teori Kepribadian dan Behavioristik. Kanisius : Yogyakarta
Schultz,Duane.(1991). Psikologi Pertumbuhan.Yogyakarta:Penerbit Kanisius.


Senin, 07 Maret 2016

Teori Kepribadian Sehat aliran Psikoanalisis dan Behavior

  •  TEORI KEPRIBADIAN SEHAT

Teori kepribadian melandasi cara-cara pendekatan terhadap gangguan penyesuaian diri.Kepribadian adalah kata yang begitu umum dipakai di dunia Psikologi, kepribadian seseorang bisa dinilai dari kemampuannya memperoleh reaksi-reaksi dari berbagai orang dalam berbagai keadaan. Untuk definisi kepribadian hampir bisa dikatakan tidak ada suatu kesepakatan definisi dari keseluruhan pandangan yang pernah dilontarkan.
Sehat merupakan bagian dari harta manusia yang tak ternilai harganya. Sehat merupakan anugerah dari Sang Maha Pencipta untuk makhluk hidup melakukan perbuatan mulia sehingga sehat dapat di pandang indah untuk selalu disandang oleh individu yang sadar akan hal tersebut.
  1.      Teori Kepribadian Sehat Menurut Aliran Psikoanalisis
       Sigmund Freud (1856-1939) merupakan pendiri psikoanalisis.dalam teori  psikoanalis menganggap bahwa tingkah laku abnormal disebabkan oleh faktor-faktor intrapsikis (Konflik tak sadar, represi, mekanisme defensif )  yang mengganggu penyesuaian diri. Menurut Freud. Esensi pribadi seseoramg bukan terletak pada apa yang ia tampilkan secara sadar, melainkan apa yang tersembunyi dalam ketidaksadarannya. Apek-aspek kepribadian yang menjadi perhatiannya adalah ego, id, superego. Sumbangan terbesar Freud pada teori kepribadian adalah eksplorasinya ke dalam dunia tidak sadar dan keyakinannya bahwa manusia termotivasi oleh dorongan-dorongan utama yang belum atau tidak mereka sadari. Bagi Freud, kehidupan mental terbagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam sadar. Alam tidak sadar terbagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam bawah sadar.
Kepribadian yang sehat menurut psikoanalisis:
1.  Menurut freud kepribadian yang sehat yaitu jika individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah.
2.  Kemampuan dalam mengatasi tekanan dan kecemasan, dengan belajar
3.  Mental yang sehat ialah seimbangnya fungsi dari superego terhadap id dan ego
4.  Tidak mengalami gangguan dan penyimpangan pada mentalnya
5.  Dapat menyesuaikan keadaan ddengan berbagai dorongan dan keinginan

      2.     Teori Kepribadian Sehat Menurut Aliran Behavioristik

Behaviorisme atau Aliran Perilaku (juga disebut Perspektif Belajar) adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa semua yang dilakukan organisme — termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan— dapat dan harus dianggap sebagai perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau konstrak hipotetis seperti pikiran. Behaviorisme beranggapan bahwa semua teori harus memiliki dasar yang bisa diamati tapi tidak ada perbedaan antara proses yang dapat diamati secara publik (seperti tindakan) dengan proses yang diamati secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan).
Teori-teori behavioristik adalah proses belajar serta peranan lingkungan yang merupakan kondisi langsung belajar dalam menjelaskan perilaku. Semua bentuk tingkah laku manusia adalah hasil belajar yang bersifat mekanistik lewat proses penguatan. Pendekatan behavioristik terhadap kepribadian memiliki dua asumsi dasar, yaitu:
1.  Perilaku harus dijelaskan dalam pengaruh kausal lingkungan terhadap diri individu
2. Pemahaman terhadap manusia harus dibangun berdasarkan riset ilmiah objektif à dikontrol dengan seksama dalam eksperimen laboratorium Manusia dianalogikan atau dianggap sebagai tikus pintar yang mempelajari labirin kehidupan. Behavioristik memiliki pandangan tentang kehendak bebas yaitu perilaku yang ditentukan oleh lingkungan.
  • Kepribadian yang sehat menurut behavioristik:
1. Memberikan respon terhadap faktor dari luar seperti orang lain dan lingkungannya
2. Bersifat sistematis dan bertindak dengan dipengaruhi oleh pengalaman
3. Sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, karena manusia tidak memiliki sikap dengan bawaan sendiri
4.Menekankan pada tingkah laku yang dapat diamati dan menggunakan metode yang obyektif


Refrensi:
Samsyu Yusuf dan Juntika Nurihsan. (2007). Teori Kepribadian. Bandung: Rosda
Hall S, C .,& Lindzey, G. 1993. Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Kanisius. Yogyakarta
Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.
http://nataliabriliani.blogspot.co.id/2015/03/teori-kepribadian-sehat.html

Tugas Softkill Pengantar orientasi kesehatan mental

PENGANTAR ORIENTASI KESEHATAN MENTAL

A. Orientasi Kesehatan Mental

          Kesehaan mental merupakan upaya mengatasi stress, berhubungan dengan orang lain, dan mengambil keputusan. Kesehatan mental dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu selaras dengan perkembangan orang lain. Terkait dengan pengertian kesehatan mental ini, Zakiyah Darajat (1975) mengemukakan, bahwa kesehatan mental merupakan “Terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-poblem yang biasa terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya “.
Kesehatan Mental (mental health) terkait dengan :
  1. Bagaimana kita memikirkan, merasakan dan melakukan berbagai situasi kehidupan yang kita hadapi sehari-hari.
  2. Bagaimana kita memandang diri sendiri, kehidupan sendiri dan orang lain.
  3. Bagamana kita mengevaluasi berbagai alternatif dan mengambil keputusan.

B. Konsep Sehat

         Konsep sehat didefinisikan sebagai suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dimiliki. Konsep sehat dan kesehatan memiliki definisi yang hampir serupa. Konsep sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha memengaruhinya. Saat seseorang berada dalam keadaaan yang sehat, seseorang biasanya akan merasa semangat dan mampu menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik. Hal tersebut disebabkan fungsi tubuh bekerja dengan baik dan mampu membuat seseorang menjadi fokus dan bersemangat dalam melakukan pekerjaan. Selain itu seseorang dapat dikatakan sehat jika orang tersebut secara fisik, emosi, intelektual, spiritual, dan sosial berada dalam keadaan yang normal dan prima.

C. Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

1. Masa Animisme

Orang Yunani percaya bahwa gangguan mental terjadi karena dewa marah dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dari korban yang mereka persembahkan. Praktik-praktik semacam tersebut berlangsung mulai dari abad 7-5 SM. Setelah kemunculan naturalisme, maka praktik semacam itupun kian berkurang, walaupun kepercayaan tentang penyakit mental tersebut berasal dari roh-roh jahat tetap bertahan sampai abad pertengahan.

2. Kemunculan Naturalisme

Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-467). Aliran ini berpendapat bahwa gangguan mental atau fisik merupakan akibat dari alam. Hipocrastes menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu sebagai penyebab sakit. Ide naturalistik ini kemudian dikembangkan oleh Galen, seorang tabib dalam lapangan pekerjaan pemeriksaan atau pembedahan hewan.Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi di kalangan orang-orang Kristen. Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filasafat politik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia telah terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, para pasiennya (yang maniak) dirantai, diikat di tembok dan di tempat tidur. Para pasien yang telah dirantai selama 20 tahun atau lebih karena dipandang sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya, di antara mereka banyak yang berhasil. Mereka tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya sendiri.

3. Perkembangan Kesehatan Mental Era Modern

   Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan tradisional ke sikap dan cara yang rasional (ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada tahun 1783. Perkembangan psikologi abnormal dan pskiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya ”mental hygiene” yang berkembang menjadi suatu ”Body of Knowledge”beserta gerakan-gerakan yang terorganisir. Perkembangan kesehatan mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran dan inspirasi para ahli, terutama dari dua tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde Dixdan Clifford Whittingham Beers. Pada tahun 1909, gerakan kesehatan mental secara formal mulai muncul. Selama dekade 1900-1909, beberapa organisasi kesehatan mental telah didirikan, seperti American Social Hygiene Associatin(ASHA), dan American Federatio for Sex Hygiene.
  Perkembangan gerakan-gerakan di bidang kesehatan mental ini tidak lepas dari jasa Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Bahkan, karena jasa-jasanya itulah, dia dinobatkan sebagai ”The Founder Of The Mental Hygiene Movement”. Dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi. Pada tahun 1950, organisasi kesehatan mental terus bertambah, yaitu dengan berdirinya ”National Association For Mental Health”yang bekerjasama dengan tiga organisasi swadaya masyarakat lainnya, yaitu ”National Committee For Mental Hygiene”, ”National Mental Health Foundation”, dan”Psychiatric Foundation”.
  Gerakan kesehatan mental ini terus berkembang sehingga pada tahun 1075 di Amerika Serikat terdapat lebih dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui ”The World Federation For Mental Health” dan“The World Health Organization”.



D. Pendekatan Kesehatan Mental

a. Orientasi Klasik
Seseorang dianggap sehat secara mental bila tidak memiliki kondisi yang membuat diri orang tersebut merasa tidak nyaman, seperti ketegangan, rasa lelah, perasaan rendah diri, perasaan tidak berguna yang akan mengganggu efisiensi diri sehari-hari. Aktivitas klasik ini banyak dianut di lingkungan kedokteran. Pengertian kesehatan mental kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orangyang mengalami gangguan jiwa dengan gejala kehilangan kontak dengan realitas.

b. Orientasi Penyesuaian Diri
Landasan orientasi ini menyatakan bahwa manusia pada umumnya adalah makhluk yang sehat secara mental. Penetuan sehat atau sakit mental dilihat sebagai derajat kesehatan mental. Menurut orientasi ini, kesehatan mental adalah kondisi kepribadian individu secara utuh.

c. Orientasi Pengembangan Potensi
Individu yang sehat mental adalah individu yang dapat dan mampu mengembangkan dan memamanfaatkan potensi yang ada pada dirinya untuk kegiatan yang positif – kosntruktif, sehingga dapat meningkatkan kualitas dirinya, yang digunakan dalam kehidupan sehari – hari. Sehingga bagi orang-orang yang memiliki kesehatan mental, mereka dapat menjadi manusia yang produktif dan tidak bingung dalam menentukan jati dirinya.


Referensi:
Basuki Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Yusuf Syamsu. 2004. Mental Hygiene Pengembangan Kesehatan Mental dalam kajian Psikologi dan Agama. Bandung: Pustaka Bani Quraisy
Rochman, K.L. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto : Fajar Media Press.

Minggu, 24 Januari 2016

TUGAS PSIKOLOGI INTERNET MERIVIEW JURNAL

GADJAH MADA JOURNAL OF PSYCHOLOGY

VOLUME 1, NO. 2, MEI 2015: 106 – 119

ISSN: 2407-7798


Peran Kepercayaan Interpersonal Remaja yang Kesepian dalam Memoderasi Pengungkapkan Diri pada Media Jejaring Sosial Online

Firman Alamsyah Ario Buntaran1, Avin Fadilla Helmi2

Program Magister Psikologi
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada


Abstract. The aim of this research is to study the role of online interpersonal trust that moderating relation between loneliness and online self disclosure to the 162 students. This research was using loneliness scale, online self disclosure scale, and online interpersonal trust scale. The result of this study indicated that there is a significant relationship between loneliness and online self disclosure moderated by online interpersonal trust. There is no significant difference level of online self disclosure both male and female student. Female student spent more time than male student in online networking site. The study also found that female students have more online social networking sites such as Facebook, Twitter, Instagram, etc. than male students. Three hours range is a prolonged period of time most widely used participant.

Keywords: loneliness, selfdisclosure, online interpersonal trust

Abstrak. Penelitian ini meneliti peran kepercayaan interpersonal secara online memperkuat hubungan antara kesepian dan pengungkapan diri pada 162 siswa-siswi. Alat ukur dalam penelitian ini adalah skala kesepian, skala pengungkapan diri, dan kepercayaan interpersonal di jejaring sosial online. Hasil penelitian ini tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara siswa perempuan dibandingkan laki-laki pada diri secara online dalam mengungkapkan diri. Siswa perempuan lebih lama dalam waktu penggunaan jejaring sosial online dibandingkan dengan siswa laki-laki. Penelitian juga menemukan bahwa siswa perempuan memiliki situs jejaring sosial online lebih banyak seperti Facebook, Twitter, dan Instagram dibandingkan dengan siswa laki-laki. Penggunaan waktu selama tiga jam adalah rentang waktu paling banyak digunakan oleh partisipan. Terdapat hubungan yang signifikan antara kesepian dan pengungkapan diri secara online yang dimoderatori oleh kepercayaan interpersonal online.

Kata kunci: kesepian, pengungkapan diri, kepercayaan interpersonal jejaring sosial online



Masyarakat1 pada saat ini tengah hidup dalam sebuah era informasi digital. Terjadi perubahan dalam cara berkomunikasi dari

1 Korespondesni mengenai artikel ini dapat dilakukan melalui:  firman.alamsyah@mail.ugm.ac.id

2 Atau melalui: avinpsi@ugm.ac.id


bentuk komunikasi tatap muka secara lang-sung menjadi komunikasi yang termediasi oleh teknologi. Situs jejaring sosial online misalnya telah menjadi bentuk komunikasi baru bagi kalangan remaja, dewasa hingga orangtua sekalipun.

Pertemanan dalam jejaring sosial online saat ini merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Remaja menempati proporsi paling besar pengguna komunikasi elektro-nik baru seperti Instant Messaging, E-mail, dan pesan teks, serta komunikasi melalui situs internet seperti Blog, jejaring sosial online, dan situs internet (Subrahmanyam & Greenfield, 2008).

Remaja memiliki kebutuhan untuk memiliki dan bersama dalam jaringan sosialnya serta meningkatkan hubungan interpersonal untuk mengaktualisasikan diri melalui keterampilan interpersonal. Pengungkapan diri merupakan keteram-pilan interpersonal yang penting dalam perkembangan remaja. Namun sebagian besar dari remaja memiliki keterampilan sosial yang rendah (Goldner, 2008). Berda-sarkan penelitian yang dilakukan oleh Bargh, McKenna, dan Fitzsimons (2002), tampak bahwa remaja yang pemalu dan keterampilan sosial yang rendah mampu mengekspresikan apa yang mereka anggap menjadi "diri sejati" mereka lebih mudah melalui media jejaring sosial online diban-dingkan melalui interaksi tatap muka. Waktu berlebih yang digunakan untuk menggunakan Facebook terkait erat dengan perasaan kesepian yang dialami remaja (Ingvadottir, 2014). Individu yang introvert dilaporkan memiliki motivasi yang signi-fikan untuk bergabung dalam Facebook, Amichai-Hamburger, Wainapel, dan Fox (2002).

Berdasarkan data yang dilaporkan Madden, Lenhart, Duggan, Cortesi, dan Gasser (2013) 95% remaja dengan rentang usia 12 - 17 tahun aktif secara online. Survei yang melibatkan 802 remaja tersebut mela-porkan bahwa 81% remaja menggunakan situs jejaring sosial online. Ada 77% remaja aktif dan menggunakan Facebook, dan 24% menggunakan Twitter. Aktifitas remaja selama aktif dalam jejaring sosial online diantaranya adalah memasang foto pada akun jejaring sosial online, memposting


nama sekolah, menempel kota asal, membe-ritahu nama asli, memposting kesukaan seperti film, musik dan buku, memposting tanggal lahir, memposting status hubungan pacaran, dan memposting video tentang diri.

Goldner (2008) mengemukakan bahwa alasan kuat remaja aktif di jejaring sosial adalah untuk meningkatkan popularitas diri dikalangan kelompok sebaya remaja. Hipotesis kompensasi sosial (social compen-sation hypothesis) menjelaskan bahwa remaja yang mengalami kecemasan sosial meng-alami kesulitan mengembangkan persaha-batan secara tatap muka sehingga cende-rung menggunakan Facebook sebagai cara untuk megatasi ketidakmampuan berinte-raksi secara tatap muka (Zywicka & Danowski, 2008; Baron & Branscombe (2012).

Menurut Greene, Derlega, dan Mathews (2006) semua bentuk baik komuni-kasi verbal dan non verbal yang bersifat mengungkapkan informasi tentang diri dan perilaku komunikatif merupakan perilaku pengungkapan diri. terdapat beberapa dimensi yang berpengaruh pada proses pengungkapan diri yang berhubungan dengan proses perkembangan kedekatan hubungan menurut Altman dan Taylor dalam teori penetrasi sosial (Derlega & Barbara, 1997). Dimensi pertama adalah keluasan topik (topic breadth), berapa informasi yang diungkapkan mengenai topik-topik pembicaraan khusus, yang kedua adalah frekuensi keluasan (breadth frequency) mengenai topik-topik pembicara-an informasi yang berbeda-beda, yang ketiga adalah dimensi waktu (topic time) mengenai berapa banyak waktu yang dila-lui ketika berbicara antar individu tentang pembicaraan tertentu, dan yang keempat adalah kedalaman topik (topic depth) mengenai tingkat keintiman dalam meng-ungkapkan informasi diri.


E-JURNAL GAMA JOP                                                                                                                    107
BUNTARAN & HELMI

Menurut Lu (2013) dalam pandangan teori modal sosial, media sosial online disa-dari potensinya menghasilkan modal sosial, menghilangkan kesepian dan merangsang produktifitas, serta adanya imbal balik didalamnya. Lin (1999) memandang bahwa modal sosial sebagai konstruksi elastis, menjelaskan manfaat yang dapat diterima dari hubungan seseorang dengan orang lain. Ellison, Steinfield, dan Lampe (2006) juga menunjukkan bahwa penggunaan facebook yang intens berkaitan erat dengan pembentukan dan pemeliharaan modal sosial. Ellison, Steinfield, dan Lampe (2007) berargumen bahwa dalam pandangan mo-dal sosial, jumlah ikatan sosial yang dimiliki pengguna media jejaring sosial ditemukan terkait dengan hipotesis Peningkatan Sosial (Social Enhancement hypothesis). Pengguna yang lebih rendah pada kepuasan hidup dan harga diri rendah akan mengembang-kan modal sosial yang lebih tinggi dengan menggunakan Facebook dalam menjalin pertemanan.

Teori penetrasi sosial menandaskan supaya hubungan dalam jejaring sosial te-tap terbina dan faktor yang penting adalah orang saling percaya. Menurut Rempel, Holmes, dan Zanna (1985) kepercayaan tersebut terlihat berkembang dari penga-laman masa lalu dan interaksi sebelumnya, sehingga berkembang sebagai hubungan yang matang.

Penelitian yang dilakukan Jin (2013), Clayton, Osborne, Miller, dan Oberle (2013) juga menguatkan hipotesis mengenai kese-pian dan pengungkapan diri. Dalam pene-litian tersebut ditemukan bahwa tingkat kesepian terkait kegiatan berkomunikasi. Individu-individu yang kesepian melihat Facebook sebagai media yang berguna untuk mengungkapan diri secara sosial dan terkoneksi.

Bonetti, Campbell, dan Gilmore (2010) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa anak-anak dan remaja yang kesepian menggunakan komunikasi online secara berbeda dibandingkan dengan anak-anak dan remaja yang tidak kesepian. Dapat disimpulkan juga bahwa untuk remaja yang berkomunikasi secara online, mereka dapat memenuhi kebutuhan pengungkapan diri, eksplorasi identitas dan interaksi sosial.

Leung (2011), dan Schwartz (2010) melakukan penelitian mengenai aktivitas sosial online pada remaja untuk mengung-kap hubungan antara preferensi berinterak-si sosial online dengan kesepian, dukungan sosial dan efek mediasi eksperimen iden-titas online. Individu-individu yang kese-pian dan memiliki tingkat dukungan sosial offline yang lebih rendah berpeluang untuk bereksperimen identitas secara online diban-dingkan dengan mereka yang kurang kese-pian atau tidak kesepian. Kesepian dan dukungan sosial offline ditemukan secara signifikan berkaitan dengan preferensi un-tuk berinteraksi pada jejaring sosial online.

Berger (2011) dan Frye dan Dornisch (2010) meneliti tentang peran kepercayaan interpersonal pada jejaring sosial online. Hasilnya adalah kepercayaan pada peng-guna jejaring sosial online merupakan variabel moderator pada pertemanan secara online.

Hipotesis pada penelitian ini adalah kepercayaan interpersonal menguatkan hubungan antara kesepian dengan peng-ungkapan diri di situs jejaring sosial online.

Penelitian ini dilakukan dengan meng-gunakan metode kuantitatif pada siswa-siswi SMA Negeri Yogyakarta sebagai subjek penelitian yang berjumlah 162 orang. Penelitian ini dilakukan dengan metode pengisian tiga skala, yaitu skala pengung-kapan diri pada situs jejaring sosial online, skala kesepian, dan skala kepercayaan interpersonal pada situs jejaring sosial online.


108                                                                                                               
 E-JURNAL GAMA JOP

GADJAH MADA JOURNAL OF PSYCHOLOGY VOLUME 1, NO. 2, MEI 2015: 106 – 119
ISSN: 2407-7798


Kepercayaan interpersonal



Kesepian

Pengungkapan Diri


secara Online









Gambar 1. Kerangka penelitian

  • Metode

  • Skala pengungkapan diri pada jejaring sosial online

Skala keterbukaan diri disusun oleh Suryani dan Helmi (Helmi, 2013). Berda-sarkan uji konsistensi aitem total diperoleh hasil koefisien bahwa ada 10 aitem yang mempunyai koefisien aitem total yang dikoreksi kurang dari 0,3. Oleh karena itu, ke 10 aitem tersebut digugurkan. Koefisien daya beda bergerak dari 0,335 sampai dengan 0,650 sebanyak 14 aitem. Uji validiasi konstruk dilakukan pada 211 siswa SMA di Yogyakarta melalui exploratory factor analysis. Dengan Barlett’s Test of

Sphericity diperoleh nilai kai-kuadrat sebesar 1913.453 (p<0,05). Hasil uji Keiser-Meyer-Olkin Measure of sampling adequacy sebesar 0,916. Koefisien reliabilitas dengan alpha Cronbach sebesar 0.847.

  • Skala Kesepian

Skala kesepian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala kesepian yang diadaptasi dari skala kesepian UCLA versi tiga yang dikembangkan Russell pada tahun 1996 (Buntaran & Helmi, 2013). Uji confirmatory factor analysis pada skala adap-tasi kesepian UCLA dengan Barlett’s Test of

Sphericity diperoleh nilai kai-kuadrat sebesar 1913.453 (p<0,05). Uji Keiser-Meyer-Olkin Measure of sampling adequacy sebesar 0,916. Hal ini dapat disimpukan bahwa analisis faktor tepat digunakan untuk menganalisis data. Rotasi yang digunakan adalah ortho-gonal dengan teknik varimax dengan meng-hasilkan dua dimensi. Koefisien realibilitas dengan alpha Cronbach sebesar 0,915 (Buntaran & Helmi, 2013).


  • Skala Kepercayaan Interpersonal pada jejaring sosial online

Skala kepercayaan interpersonal dalam jejaring sosial menggunakan online trust scale yang dibuat oleh Helmi dan Pratiwi (Helmi, 2013). Berdasarkan hasil uji konsis-tensi aitem-total pada skala kepercayaan interpersonal online diperoleh koefisien aitem total berkisar antara 0,319 sampai dengan 0,515 kecuali pada aitem nomor 4, 5, dan 11 di bawah 0,3. Ada 16 aitem yang diujicobakan untuk keperluan validasi konstruk dengan melibatkan siswa dari SMA di Kota Malang, Lampung, dan Medan sebanyak 230 orang. Berdasarkan

Barlett’s Test of Sphericity diperoleh nilai kai-kuadrat sebesar 2245,612 (p<0,05), uji Keiser-Meyer-Olkin Measure of sampling adequacy sebesar 0,771. Hal ini dapat disimpukan bahwa analisis faktor tepat digunakan untuk menganalisis data. Selanjutnya dilakukan exploratory factor analysis dengan menggunakan rotasi orthogonal teknik varimax diperoleh sebanyak 5 dimensi tetapi yang dapat digunakan ada 3. Pertimbangan yang digunakan ke-4 dimensi, yaitu dimensi ke-5 jumlah aitemnya terlalu sedikit, yaitu 1 aitem. Adapun Koefisien reliabilitas dengan menggunakan alpha Cronbach sebesar 0,82.


E-JURNAL GAMA JOP                                                                                                                    106

BUNTARAN & HELMI
  • Hasil
Analisis dalam penelitian yang dilaku-kan menggunakan model regresi ganda yang menjelaskan variabel moderator sebagai variabel yang mengubah arah atau menguatkan hubungan antara prediktor dan kriterium, dengan persamaan regresi:

Yi  0 1X1i 2X2i 3X1i . X2i Ei

Moderator adalah variabel yang me-nentukan kondisi di mana prediktor yang diberikan terkait dengan kriterium (Aiken & West, 1991). Moderator berfungsi ketika prediktor dan kriterium ada kaitannya. Dengan adanya moderasi menyiratkan efek interaksi, sehingga memungkinkan suatu variabel moderasi mengubah arah atau besarnya hubungan antara dua variabel. Sebuah efek moderasi bisa menjadi: (a) Meningkatkan (enhancing), dimana pening-katan moderator akan meningkatkan efek prediktor pada kreterium; (b) Buffering, di-mana peningkatan moderator akan meng-urangi efek dari prediksi pada kriterium dan (c) Antagonis, dimana peningkatan moderator akan membalikkan efek dari pre-diktor pada kriterium (Elite Research, 2013).

Statistik deskriptif variabel penelitian terlihat pada Tabel 1.

Total subjek sebanyak 162 subjek pene-litian. Mayoritas subjek penelitian adalah perempuan dengan jumlah 69,8%, x =113

dan subjek laki-laki dengan 30,2%, x =49. Adapun interval usia subjek dalam peneli-tian ini (Tabel 2) merupakan kelompok usia yang homogen, yang tergolong usia remaja dengan rentang rentang usia 13 hingga 16 tahun. Proporsi usia tertinggi adalah usia 15 (62.3%), yang terbagi menjadi 65,30% subjek penelitian laki-laki dan 61,06% subjek penelitian perempuan. Pada kelompok usia 16 tahun dengan 28.4% yang terbagi menjadi 28,58% subjek penelitian laki-laki dan 28,31% subjek penelitian perempuan, pada kelompok usia 14 tahun sebanyak 8.6% yang terbagi menjadi 6,12% subjek penelitian laki-laki dan 9,74% subjek penelitian perempuan, dan pada kelompok usia 13 tahun dengan jumlah 0,6% atau hanya satu subjek penelitian perempuan.
Tabel 1
Profil Umum Subjek Penelitian

Variabel
Jumlah
%





Laki-Laki
49
30.2

Perempuan
113
69.8





Total
162
100,0





Tabel 3 memperlihatkan bahwa subjek laki-laki dan perempuan pada jumlah berbeda dalam waktu penggunaan jejaring sosial online. Perempuan rata-rata ( x = 2.51, µ=2.51) lebih banyak menggunakan jejaring sosial online dibandingkan dengan laki-laki ( x = 49, µ=2.41).


Tabel 2
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin

Usia

Jumlah


% (%)
Total
%









L
P

L
P

















13
-
1
-
0,89
1
0,617


14
3
11
6,12
9,74
14
8,64


15
32
69
65,30
61,06
101
62,34


16
14
32
28,58
28,31
46
28,4











Jumlah
49
113
100,0
100,0
100
100,0















110                                                                                                                   E-JURNAL GAMA JOP


Sedangkan untuk kriteria 2 akun me-nempati posisi kedua terbanyak setelah 4 akun yang dimiliki. Untuk subjek penelitian laki-laki berjumlah x =22 atau 44,89% sementara perempuan x =21 atau 18,58%. Untuk kriteria jumlah 2 akun, laki-laki lebih banyak dibanding perempuan dan jumlah akun terbanyak yang dimiliki. Sedangkan untuk kepemilikan 3 akun, tidak ada perbe-daan signifikan antara laki-laki dan perem-puan. Laki-laki pada kepemilikan 3 akun dengan 22,24% sedangkan perempuan 22,12%, dengan jumlah total laki-laki dan perempuan 22,22%.
Tabel 6 menyajikan deskripsi data yang terkait informasi berbagai situs jejaring sosial online yang digunakan subjek penelitian. Terdapat 27 nama situs jejaring sosial yang digunakan subjek penelitian. Facebook merupakan situs jejaring sosial yang paling banyak yaitu 94,44% dan disusul oleh Twitter (93,21%), Instagram dengan 28,40%, dan Google+ 16,67%. Sejalan dengan pendapat Marwick (2012) bahwa Facebook adalah hanya satu bagian dari sistem media sosial yang lebih besar dalam masyarakat. Individu memiliki profil
Facebook,  akun  Twitter,  Blog  Tumblr,  akun
111
KEPERCAYAAN INTERPERSONAL, REMAJA KESEPIAN, JEJARING SOSIAL

Tabel 3
Perbedaan Jumlah Jam Penggunaan Jejaring Sosial Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin
Rata-Rata
Jumlah
%






Laki-laki
2.41
49
100

Perempuan
2.51
113
100






Total
2.48
162
100






Tabel 4

Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin dan Rentang Waktu Penggunaan Jejaring Sosial Online

Rentang Waktu
Laki-laki
%
Perempuan
%
Total
%









>8 jam
2
4,08
2
1,77
4
2,47

1-3 Jam
41
83,67
95
84,07
136
83,95

4-6 Jam
6
12,24
16
14,16
22
13,58









Total
49
100
113
100
162
100









Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui rentang waktu penggunaan jejaring sosial online berdasarkan jenis kelamin. Rentang waktu 1 sampai 3 jam merupakan rentang mayoritas dari ketiga rentang waktu dengan jumlah total x =136 atau 83,95% subjek penelitian. Rentang waktu 4 sampai 6 jam merupakan rentang kedua dengan jumlah total x =22 atau 13,58% subjek penelitian. Sisanya rentang waktu lebih dari 8 jam dengan jumlah total subjek penelitian x =4 atau 2,47%. Berdasarkan perbedaan jenis kelamin tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perem-puan pada rentang waktu penggunaan jejaring sosial online.
Berdasarkan Tabel 5 memperlihatkan jumlah akun yang dimiliki subjek penelitian untuk mengakses situs jejaring sosial. Mayoritas subjek penelitian mempunyai empat akun jejaring sosial online. Subjek penelitian laki-laki berjumlah x = 12 sedang-kan perempuan berjumlah x = 38. Terdapat perbedaan kepemilikan akun yang dimiliki antara laki-laki dan perempuan. Perempuan lebih banyak memiliki akun jejaring sosial online dibandingkan dengan subjek peneli-tian laki-laki.


E-JURNAL GAMA JOP

BUNTARAN & HELMI

Tabel 5
Perbedaan Jumlah Akun Berdasarkan Jenis Kelamin pada Penggunaan Jejaring Sosial Online

Jumlah Akun
Jumlah Pengguna


%
Jumlah Total
%









L
P

L
P

















1
2
6
4,08
5,3
8
4,93


2
22
21
44,89
18,58
43
26,54


3
11
25
22,44
22,12
36
22,22


4
12
38
24,48
33,62
50
30,86


5
2
13
4,08
11,5
15
9,25


6
-
5
-
4,42
5
3,08


7
-
4
-
3,53
4
2,46


8
-
1
-
0,88
1
0,61











Jumlah
49
113
100
100
162
100











Total

162
100
100
162
100











Tabel 6

Nama Akun Jejaring Sosial Online dan Jumlah Pengguna

Nama Akun Jejaring Sosial
Jumlah Pengguna
%





Facebook
153
94,44

Twitter
151
93,21

Instagram
46
28,40

Google+
27
16,67

Line
26
16,05

Blogspot
21
12,96

Path
17
10,49

Youtube
16
9,88

Whatsapp
12
7,41

Tumblr
11
6,79



Foursquare dan Instagram Photostream, masing-masing akun mengirimkan infor-masi pribadi kepada massa yang besar.

Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa perempuan (µ=3.59) lebih banyak memiliki akun jejaring sosial online diban-ding subjek penelitian laki-laki (µ=2.80) F= 4,078, nilai p=0,045.

Pada Tabel 8 skor rata-rata tiap varia-bel. Tidak terdapat perbedaan yang signi-fikan antara subjek penelitian laki-laki (µ=37.94) dan perempuan (µ=37.88), F= 0,219 dan nilai p=0,641. Pada variabel kesepian juga tidak ditemukan perbedaan skor rata-rata antara subjek penelitian laki-laki



(µ=43,53) dan subjek penelitian perempuan (µ=44,85), F=0,270, nilai p=0,604. Namun dapat diindikasikan subjek perempuan lebih tinggi tingkat kesepiannya dibanding-kan subjek penelitian laki-laki. Untuk variabel kepercayaan interpersonal juga tidak terdapat perbedaan yang signifikan

Tabel 7

Jumlah Akun Jejaring Sosial Online Berdasarkan
Jenis Kelamin
Jenis_
Rata-
Jumlah
F
p

Kelamin
rata











Laki-laki
2.80
49
4,078
0,045

Perempuan
3.59
113












112                                                                                                                   E-JURNAL GAMA JOP

KEPERCAYAAN INTERPERSONAL, REMAJA KESEPIAN, JEJARING SOSIAL

antara subjek penelitian laki-laki (µ=59,22), dan subjek penelitian perempuan (µ=59.63), nilai F=0,079; p>0,05).

Adapun hasil analisis tahapan model regresi dalam penelitian sebagai berikut:

1.    Regresi variabel kesepian dengan varia-bel pengungkapan diri. Hasil regresi menunjukkan skor F=5.730; p<0,05 yang menunjukkan bahwa kesepian memiliki hubungan dengan pengungkapan diri.

Nilai R2=0,032, menunjukkan bahwa 3,2% variabel pengungkapan diri dapat dijelaskan oleh variabel kesepian, sisa-nya 96,8% sisanya dijelaskan oleh varia-bel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini.

2.    Regresi variabel kepercayaan interper-sonal online dengan variabel pengung-kapan diri. Hasil regresi menunjukkan skor F=121.748; p<0,01 yang menunjuk-kan bahwa kepercayaan interpersonal memiliki hubungan yang signifikan dengan pengungkapan diri secara online. Nilai R2=0,605, menunjukkan bahwa 60,5% variabel pengungkapan diri dapat dijelaskan oleh variabel kepercayaan interpersonal, sedangkan sisanya 30,5% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini.

3.    Regresi variabel moderator atau inter-aksi antara variabel kesepian dan variabel kepercayaan interpersonal (perkalian antara variabel kesepian dan variabel kepercayaan interpersonal ter-hadap pengungkapan diri menunjukkan

nilai F= 80.796; p<0,01 dan R2=0,605, hal ini menunjukkan bahwa sumbangan efektif sebesar 60,5% diberikan variabel moderator (interaksi antara variabel kesepian dan variabel kepercayaan interpersonal) terhadap pengungkapan diri, sisanya 39,5% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini.


Tabel 8

Deskripsi Perbedaan Skor Rerata Pengungkapan Diri, Kesepian, dan Kepercayaan Interpersonal Berdasarkan Jenis Kelamin





Jenis Kelamin
Jumlah
Skor Rata-rata
F
p













Pengungkapan diri pada

Laki-laki
49
37.94
0,219
0,641


jejaring sosial Online











Perempuan
113
37.88































Kesepian



Laki-laki
49
43.53
0,270
0,604

















Perempuan
113
44.85






















Kepercayaan interpersonal

Laki-laki
49
59.22
0,079
0,779


pada jejaring sosial online









Perempuan
113
59.63






























Tabel 9












Hasil Uji Hipotesis

























Model
IV
DV

R
R Square
F
p
Beta















1
K
PD
0,180
0,032

5.730
0,022
- 0,180



2
KI
PD
0,778
0.605

121.748
0,000
0,770



3
KSP * KI
PD
0,778
0,605

80.796
0,000
0,164




















E-JURNAL GAMA JOP                                                                                                                    113

BUNTARAN & HELMI


Hasil analisis moderasi dapat diperoleh dengan cara membandingkan antara model 1, model 2, dan model 3. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel moderator berperan dalam menguatkan hubungan antara variabel kesepian dan variabel pengungkapan diri. Hasil analisis regresi ketiga variabel penelitian ini dapat digam-barkan seperti pada Gambar 2.


Diskusi

Hasil analisis regresi moderator meng-hasilkan nilai F=80.796; p<0,05 dan dan R2=0,605. Adapun persamaan regresi ketiga variabel dapat diuraikan sebagai Y=11,423 + -0,075 kesepian +0,512 kepercayaan inter-personal +0,002 moderator. Dapat dilihat dari persamaan garis regresi bahwa keper-cayaan interpersonal merupakan variabel moderator yang penting terkait hubungan antara kesepian dan pengungkapan diri pada jejaring sosial online, dengan sum-bangan efektif sebesar 60,5%. Namun variabel kesepian hanya memberikan sum-bangan sebesar 3,2% terhadap pengung-kapan diri secara online. Interaksi antara variabel kesepian dan variabel kepercayaan interpersonal juga menunjukkan bahwa interaksi kedua variabel menghasilkan sumbangan yang signifikan terhadap peng-ungkapan diri pada jejaring sosial online


sumbangan efektif yang diberikan sebesar 60,5%.

Hal ini sejalan dengan pendapat Hawkley dan Cacioppo (2007) bahwa kese-pian yang dialami individu menunjukkan bahwa representasi koneksi mental sese-orang dengan orang lain dicirikan oleh dimensi individual, relasional, dan kolektif. Pada tingkat kolektif, perasaan identifikasi kelompok dan kohesi memenuhi kebutuhan untuk memiliki sehingga kesepian dapat diatasi. Hal ini dapat menjelaskan temuan penelitian mengenai keterkaitan antara kesepian dan pengungkapan diri. Dalam pandangan Hofstede (1991) masyarakat kolektif lebih menekankan kepentingan kelompok yang lebih besar, masyarakat, dan keluarga sehingga menekankan pen-tingnya saling ketergantungan, memper-tahankan hubungan, membuat keputusan berdasarkan kebutuhan kelompok. Menurut Shin dan Park (2005) pada budaya kolektifis terkait dengan ikatan sosial yang hirarkis dan memperkuat pembentukan kepercaya-an dalam masyarakat, bahwa budaya kolek-tif berkomunikasi secara tidak langsung, dan lebih menekankan pada kepentingan kelompok yang lebih besar dari pada diri mereka sendiri (Durand, 2010; Van Dyne, Vandewalle, Kostova, Latham, & Cummings, 2000).




Kepercayaan



interpersonal
β2= 0,770

β3=0,164










Kesepian

Pengungkapan Diri

β=- 0,180
secara Online



Gambar 2. Hasil analisis regresi ketiga variabel penelitian



114                                                                                                                   E-JURNAL GAMA JOP

KEPERCAYAAN INTERPERSONAL, REMAJA KESEPIAN, JEJARING SOSIAL


Lebih lanjut Hofstede juga menjelaskan bahwa orang cenderung mempercayai orang-orang yang berasal dari kelompok yang sama (Allik & Realo, 2004). Pengungkapan diri dalam suatu kelompok membantu untuk membangun identitas kelompok, serta memperkuat hubungan antar anggota kelompok (Chen, 2013). Selain itu, pengungkapan antara individu dan kelompok-kelompok berfungsi sebagai cara untuk verifikasi informasi pribadi pada kelompok. Kepercayaan interpersonal pada budaya kolektif merupakan modal bagi masyarakat didalamnya, masyarakat cenderung mempercayai satu sama lain sebagai bagian dari anggota kelompok masyarakat kolektif dan kolektivisme mempunyai efek yang besar terhadap kepercayaan secara horisontal (Park, 2007).

Putnam (2000) menerangkan bahwa modal sosial terdiri dari dua aspek penting yakni menjembatani (bridging) dan ikatan sosial (bonding). Wellman dan Wortley (1990) menerangkan bahwa hubungan emosional yang begitu dekat sebagai ang-gota keluarga dan teman-teman yang baik memberikan ikatan (bonding) modal sosial modal, yang memungkinkan timbal balik, dukungan emosional dalam persahabatan. Ikatan jaringan memperkuat partisipasi dalam jejaring sosial online ((Bian dan Leung, 2013; Putnam (1995) dan dapat me-ningkatkan kebahagiaan seseorang. Dengan meningkatnya kontak antar personal atau kontak sosial dalam lingkup jejaring sosial online mempunyai potensi meningkatkan rasa bahagia dan mencegah masalah kese-pian (Kim, Larose, & Peng, 2009).

Derlega dan Chaikin (Erdost, 2004) juga berpendapat bahwa saling mengungkapkan dalam relasi sosial membantu mempercepat pengembangan hubungan dan pembentuk-an kepercayaan. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Burke, Marlow, dan Lento (2010) mengungkapkan bahwa peng-


gunaan jejaring sosial online terkait dengan peningkatan modal sosial dalam upaya mengurangi kesepian yang dialami. Indi-vidu merasa terhubung dengan orang lain serta tertarik untuk memperkuat hubungan yang telah dibina melalui persahabatan jejaring sosial online. Selain itu penggunaan situs jejaring sosial online memungkinkan individu untuk memperkuat hubungan yang terpisah jarak.

Mayoritas subjek penelitian adalah pe-rempuan dengan jumlah 69,8%, x = 113 dan subjek laki-laki sejumlah 30,2%, x =49. Sejalan dengan penelitian yang diungk-apkan Eler (2011) bahwa jenis kelamin memainkan peran kunci dalam penelitian. Perempuan diasumsikan lebih pada pemel-iharaan hubungan dengan keluarga dan teman-teman sebagai alasan utama untuk menggunakan situs media sosial, sedang-kan pria cenderung terkait dengan hobi untuk menggunakan media sosial. Berda-sarkan jumlah jam penggunaan berdasarkan subjek penelitian apat diketahui bahwa subjek laki-laki dan perempuan berbeda pada jumlah berbeda dalam waktu peng-gunaan jejaring sosial online. Perempuan rata-rata ( x =2.51, µ=2.51) lebih banyak menggunakan jejaring sosial online diban-dingkan dengan laki-laki ( x = 49, µ=2.41). Subjek penelitian perempuan diketahui lebih banyak memiliki akun jejaring sosial online dibanding subjek penelitian laki-laki.
Pada Tabel 8 skor rata-rata tiap varia-bel. Tidak terdapat perbedaan yang signifi-kan antara subjek penelitian laki-laki (µ=37.94) dan perempuan (µ=37.88), F=0,219 dan nilai p=0,641. Pada variabel kesepian juga tidak ditemukan perbedaan skor rata-rata antara subjek penelitian laki-laki (µ=43,53) dan subjek penelitian perempuan (µ=44,85), F=0,270, nilai p=0,604. Namun dapat diindikasikan subjek perempuan lebih tinggi tingkat kesepiannya dibanding-kan subjek penelitian laki-laki. Untuk



E-JURNAL GAMA JOP                                                                                                                    115

BUNTARAN & HELMI


variabel kepercayaan interpersonal juga tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara subjek penelitian laki-laki (µ=59,22), dan subjek penelitian perempuan (µ=59.63), nilai F=0,079; p>0,05).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan interpersonal yang besar pada pengguna media jejaring sosial online merupakan temuan penting terkait modal sosial yang ada. Remaja yang kesepian menggunakan situs jejaring sosial sebagai modal sosial (sebagai ikatan sosial dan media yang menjembatani) untuk menga-tasi permasalahan psikologis dalam hal ini kesepian yang dialami. Sehingga dengan menggunakan Facebook, kesepian yang dialami dapat diatasi. Media sosial online memberikan dampak yang positif bagi masyarakat dalam meningkatkan kesejah-teraan psikologis.


  • Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian pada 162 siswa-siswi SMA Negeri Yogyakarta, maka dapat disimpulkan bahwa: (1) Kepercayaan interpersonal mampu menguatkan hubung-an antara kesepian dengan pengungkapan diri pada situs jejaring sosial online. (2) Berdasarkan rentang waktu rentang waktu 1 sampai dengan 3 jam merupakan rentang waktu mayoritas yang digunakan subjek penelitian. Namun tidak ditemukan perbe-daan jumlah jam penggunaan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan rentang waktu penggunaan. Sedangkan pada jum-lah jam keseluruhan, terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Subjek penelitian perempuan lebih tinggi intensitas penggunaan jejaring sosial online dibanding laki-laki. (3) Siswa perempuan cenderung untuk mempunyai jumlah akun lebih banyak dibandingkan subjek penelitian laki-laki. Adapun akun jejaring sosial yang paling populer adalah Facebook dan Twitterdan (4) Kepercayaan interpersonal dalam pertemanan yang dibangun dalam situs jejaring sosial tinggi namun tidak terdapat perbedaan tingkat kepercayaan penggunaan jejaring sosial online yang signifikan antara laki-laki dan perempuan.

Saran

Saran-saran berikut ini diajukan seba-gai bentuk respons terhadap proses maupun hasil penelitian yang tidak dapat diakomodasi oleh peneliti karena berbagai alasan. Saran-saran tersebut adalah sebagai berikut: (1) Saran pada orangtua, guru, dan masyarakat luas. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa kesepian terkait dengan pengungkapan diri pada situs jejaring sosial online dengan dukungan peran kepercayaan interpersonal. Hal tersebut penting untuk menjadi perhatian bagi orangtua, pendidik, dan masyarakat terkait dengan pengungkapan diri remaja pada situs jejaring sosial online, diharapkan dapat memberikan informasi dan penga-rahan terhadap masalah kesepian dengan pengungkapan diri pada jejaring sosial online.

Orangtua dan pendidik dihadarapkan mampu menanggulangi masalah kesepian yang dialami remaja dengan memberikan keterampilan berkomunikasi yang baik dalam seting tatap muka secara langsung, sehingga remaja tidak hanya mengandalkan pengungkapan diri secara online yang hanya berdasarkan kepercayaan interpersonal yang tinggi, akan tetapi juga remaja mampu mengungkapkan diri dalam situasi tatap muka secara langsung atau offline sehingga risiko lebih jauh dari pengungkapan diri yang berlebihan dan bersifat negatif terkait kesepian pada situs jejaring sosial online dapat dicegah dan diantisipasi, dan (2) Dianjurkan bagi peneliti selanjutnya untuk mengeksplorasi permasalahan kepercayaan interpersonal terkait pengungkapan diri


116                                                                                                                   E-JURNAL GAMA JOP

KEPERCAYAAN INTERPERSONAL, REMAJA KESEPIAN, JEJARING SOSIAL


pada jejaring sosial online. Kepercayaan interpersonal merupakan kunci utama dalam sebuah hubungan interpersonal. Kepercayaan interpersonal merupakan variabel anteseden yang penting dalam menjelaskan hubungan interpersonal yang dialami individu yang menjalin hubungan interpersonal.

Ukuran subjek penelitian yang kecil menjadi kendala bagi peneliti dalam meng-generalisasikan penelitian dengan baik. Disarankan untuk peneliti selanjutnya untuk mengambil jumlah subjek yang memadai sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasi secara luas. Peneliti yang tertarik untuk mengeksplorasi pengung-kapan diri pada situs jejaring sosial online disarankan untuk meneliti faktor-faktor terkait pengungkapan diri pada situs jejaring sosial online dengan memperhatikan faktor budaya dimana subjek penelitian bertempat tinggal. Faktor budaya merupa-kan faktor penting yang harus diperhatikan peneliti selanjutnya, sehingga penelitian selanjutnya akan dapat menjelaskan keter-kaitan variabel yang akan diteliti.


Daftar Pustaka

Aiken, L. S., & West, S. G. (1991). Multiple

regression:   Testing  and  interpreting

interactions. Newbury Park, CA: Sage
Publications.

Allik, J., & Realo, A. (2004). Individualism-collectivism and social capital. Journal Of Cross-Cultural Psychology, 35(1). http://dx.doi.org/10.1177/0022022103260 381.

Amichai-Hamburger,  Y.,  Wainapel,  G.,  &

Fox, S. (2002). “On the internet No One Knows I’m an Introvert”: Extroversion, Neuroticism, and Internet Interaction.

CyberPsychology & Behavior, 5(2), 125-128.


Bargh, J. A., McKenna, K. Y. A., & Fitzsimons, G. M. (2002).Can you see the real me?: Activation and expression of the “true self” on the Internet. Journal of Social Issues, 58, 22–48.

Baron, R. A., & Branscombe, N. R. (2012). Social psychology 13th ed. New Jersey:Pearson Education, Inc.

Berger, J. (2011). Interpersonal online trust in new online social networks.. (Master's thesis, Gordon Institute of Business Science, University of Pretoria).

Bian, M., & Leung, L. (2013). Smartphone addiction: linking loneliness, shyness, symptoms and patterns of use to social capital. Hongkong: School of Journalism and Communication, The Chinese University of Hong Kong.

Bonetti, L., Campbell, M. A., & Gilmore, L.
(2010).  The  relationship  of  loneliness

and social anxiety with children's and

adolescents'    online   communication.
Cyberpsychology,            Behavior,   and   Social

Networking, 13(3), 279-285.

Buntaran, F. A. A., & Helmi, A. F (2013).
Adaptasi  skala  kesepian  ucla  versi  3.
(Tesis   tidak  dipublikasikan)  Yogya-

karta:    Program   Magister   Psikologi

Fakultas  Psikologi  Universitas  Gadjah

Mada.

Burke, M., Marlow, C., & Lento, T. (2010). Social network activity and social well-being. In Proceedings of the SIGCHI Conference on Human Factors in Computing Systems (pp. 1909-1912). ACM.

Chen, H. (2013). Effects of perceived individualism-collectivism and self-consciousness on the self-disclosure in social networking sites. Master's Theses. Paper 475.

Clayton, R. B., Osborne, R. E., Miller, B. K., & Oberle, C. D. (2013). Loneliness,


EJURNALGAMAJOP                                                                                                                    117

BUNTARAN & HELMI


anxiousness, and substance use as predictors of Facebook use. Computers in Human Behavior, 29(3), 687-693.

Derlega, V. J., & Barbara, A. (1997). Self-disclosure and starting a close relation-ship. Modern China: An Encyclopedia of History, Culture, and Nationalism, 153.

Durand, C. (2010). "A comparative study of self-disclosure in face-to-face and email communication between americans and chinese". Senior Honors Projects. Paper 197.

Eler, A. (2011). 67% of online adults use social media to stay in touch with friends. Diunduh dari:http://readwrite. com/2011/11/15/67_of_online_adults_us e_social_media_to_stay_in_to#awesm=~ owbC0vKsrbCGOF

Ellison, N. B, Steinfield, C., & Lampe, C. (2006). Spatially bounded online social networks and social capital. Interna-tional Communication Association, 36(1-37).

Ellison, N. B., Steinfield, C., & Lampe, C. (2007). The benefits of Facebook

“friends:” Social capital and college students’ use of online social network sites. Journal of Computer-Mediated Communication, 12, 1143–1168.

Elite Research (2013). Moderation. Diunduh dari: htps://www.google.com/search?q= in+elite+research+moderator+variable.

Erdost, T. (2004). Trust and self-disclosure in the context of computer mediated communication. (Doctoral dissertation, Middle East Technical University).

Frye, N. E., & Dornisch, M. M. (2010). When is trust not enough? The role of perceived privacy of communication tools in comfort with self-disclosure.

Computers in Human Behavior, 26(5), 1120-1127.


Goldner, K. R. (2008). Self disclosure on social networking websites and relationship quality in late adolescence. ETD Collection for Pace University. Paper AAI3287856. Diunduh dari: http://digitalcommons.pace.edu/disserta tions/AAI3287856.

Greene, K., Derlega, V. J., & Mathews, A. (2006). Self-disclosure in personal relationships. The Cambridge handbook of personal relationships, p. 409-427.

Hawkley, L. C., & Cacioppo, J. T. (2007). Aging and loneliness: Downhill quick-ly? Current Directions in Psychological Science, 16, 187-191.

Helmi, A. F. (2013). Model kepercayaan interpersonal di situs jejaring sosial pada remaja. (Laporan penelitian tidak dipubliksaikan) Fakultas Psikologi Uni-versitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Hofstede,     G.    (1991).    Cultures    and
organizations:  Software  of  the  mind.

London: McGraw-Hill.

Ingvadottir, A. B. (2014). The Relationship
between Facebook Use and Loneliness:

A  Comparison  Between  High-School

Student      and   University    Student.
Department  of  Psychology.  Reykjavik

University.

Jin, B. (2013). How lonely people use and perceive Facebook. Computers in Human Behavior, 29(6), 2463-2470.

Kim, J., LaRose, R., & Peng, W. (2009). Loneliness as the cause and the effect of problematic Internet use: The relation-ship between Internet use and psycho-logical well-being. CyberPsychology & Behavior, 12(4), 451-455.

Leung, L. (2011). Loneliness, social support, and preference for online social inter-action: the mediating effects of identity experimentation online among children and adolescents. Chinese Journal of Communication, 4(4), 381-399.


118                                                                                                                   E-JURNAL GAMA JOP

KEPERCAYAAN INTERPERSONAL, REMAJA KESEPIAN, JEJARING SOSIAL


Lin, N. (1999). Building a network theory of social capital. Connections, 22(1), 28-51.

Lu, Rachel. (2013). Facebook etiquette: why quitting social media is a losing propo-sition: How i learned to stop worrying and love Facebook. Diunduh dari: http://thefederalist.com/2013/11/22/Face book-etiquette-quitting-social-media-losing-proposition/.

Marwick, A. E. (2012). The Public Domain: Surveillance in Everyday Life.

Surveillance & Society, 9(4), 378-393. Diunduh dari: http://www.surveillance-and-society.org.

Park, T. H. (2007). Interpersonal trust with cultural value orientations of the korean central government bureaucrats. Ewha Womans University Press, Seoul.

Madden, M., Lenhart, A., Duggan, M., Cortesi, S., & Gasser, U. (2013). Teens and Technology 2013. Pew Research Center. Washington DC: Diunduh dari: http://www.pewinternet.org/Reports/ 2013/Teens-and-Tech. aspx.

Putnam. R. D. (1995). Tuning in, tuning out: The strange disappearance of social capital in America. PS: Political Science and Politics, 28, 664-683.

Putnam, R. (2000). Bowling Alone: Collapse
and Revival of American Community.

New York: Simon & Schuster.

Rempel, J. K., Holmes, J. G., & Zanna, M. P. (1985). Trust in close relationships.

Journal of Personality and Social Psychology, 49, 95-112.

Schwartz. M. (2010). The usage of Facebook as it relates to narcissism, self-esteem


and loneliness. Diunduh dari: http:// digitalcommons.pace.edu/dissertations/ AAI3415681/ tanggal 12 September 2013.

Shin, H. H., & Park, T. H. (2005). Indi-vidualism, Collectivism And Trust:The Correlates between trust and cultural value orientations among australian national public officers. International Review of Public Administration, 9(2), 145-161.

Subrahmanyam, K., & Greenfield, P. M. (2008). Online communication and adolescent relationships. Journal Issue: Children and Electronic Media, 18(1), 119-146.

Van Dyne, L., Vandewalle, D., Kostova, T., Latham, M. E., & Cummings, L. L. (2000). Collectivism, propensity to trust and self-esteem as predictors of orga-nizational citizenship in a non-work setting. Journal of Organizational Behaviour, 21, 3-23.

Wellman, B., & Wortley, S. (1990). Different
strokes  from  different  folks:  Commu-

nity ties and social support. American
Journal of Sociology, 558-588.

Zywica, J., & Danowski, J. (2008). The faces of facebookers: Investigating social enhancement and social compensation hypotheses; predicting facebook and offline popularity from sociability and self‐esteem, and mapping the meanings of popularity with semantic networks.

Journal of Computer‐Mediated Communi-cation, 14(1), 1-34.



E-JURNAL GAMA JOP                                                                                                                    119


·        RIVEW JURNAL

Jurnal ini membahas tentang Peran Kepercayaan Interpersonal Remaja yang Kesepian dalam Memoderasi Pengungkapan Diri pada Media Jejaring Sosial Online. Penelitian ini menggunakan metode Skala Pengungkapan Diri pada Jejaring Sosial Online, Skala Kesepian dan skala Kepercayaan Interpersonal pada jejaring sosial Online. Dari peneletian ini menemukan bahwa Siswa Perempuan lebih banyak menggunakan Situs Jejaring Sosial Online seperti Facebook, Twitter dan Instagram dibanding dengan Siswa laki-laki. Karena Saat ini Remaja hidup dalam sebuah era informasi digital yang lebih mudah untuk mengaksesnya dalam berkomunikasi dari pada bertemu atau berkomunikasi tatap muka secara langsung.

Dari hasil data Madden, Lenhart, Duggaan Cortesi dan Gasser (2013) 95% remaja dengan rentang usia 12-17 tahun aktif secara online. Survei yang melibatkan 802 Remaja tersebut 81% Remaja menggunakan situs Jejaring sosial online dan 77% Remaja aktif Menggunakan Facebook, dan 24% Remaja menggunakan Twitter. Rentang waktu yang digunakan oleh Siswa Perempuan dalam menggunakan jejaring sosial online lebih tinggi dibanding laki-laki.